jump to navigation

Islam manakah kita ? March 25, 2015

Posted by Anisah in My writings. add a comment

Tulisan ini adalah refleksi dan penceritaan  ulang dari sebuah artikel yang kemarin saya baca. Artikel KH. Hasyim Muzadi dalam koran Republika 22 Maret 2015 yang berjudul Jibril yang Bertanya, Jibril pula yang membenarkan. Menarik sekali, membaca tulisan ringan di ahad pagi, sambil merefleksikan beberapa bahan untuk bahan ajar, saya tertarik untuk membaca sampai tuntas artikel satu kolom itu. Betapa tidak, karena artikel yang cukup sederhana membahas ISIS, dijawab dengan sebuah dialog malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw.

Dalam beberapa dekade terakhir ini muncul kelompok yang ekstrim dalam memaknai Islam. Gara-gara tafsir versi sendiri inilah sebagian kelompok muslim cenderung parsial dalam memaknai Islam. Sehingga terkesan, bahwa Islam adalah agama dengan gerakan pemusnahan dan tidak damai. Hal inilah yang akan membuat para pemuda generasi saat ini tertarik untuk mencari tahu, manakah Islam yang tidak memusnahkan, utuh dan damai itu?

Teringat sebuah hadits yang diceritakan oleh Umar bin Khatab. Di mana saat itu selepas shalat, para sahabat sedang berdiskusi  dengan Rasulullah, hingga terhenti dengan datangnya seseorang yang terkesan dari beperjalanan jauh. Orang itu memakai jubah berwarna putih dengan rambutnya yang hitam pekat. Kedatangan seseorang itu membelah barisan para sahabat menjadi dua bagian, hingga akhirnya ia duduk berhadapan Nabi dengan kedua lututnya yang persis berada pada dua lutut Nabi. Orang itu bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan shalat, zakat, puasa dan haji. Orang itu membenarkan apa yang Nabi jawab hingga dia bertanya lagi. Apa itu iman? Nabi menjawab bahwa iman adalah iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, Nabi-Nya, hari akhir dan qadha yang baik dan buruk. Orang itu kembali membenarkan jawaban Nabi dan bertanya lagi, kemudian apa itu ihsan? Nabi menjawab ihsan adalah ketika engkau menyembah Allah dan engkau melihat-Nya, namun jika engkau merasa engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu. Orang itu pun lekas pergi setelah tiga pertanyaan itu selesai Nabi jawab.

Setelah kejadian itu para sahabat terheran dan Nabi bertanya kepada Umar. Umar, tahukan engkau siapa yang tadi datang kesini? Umar menjawab, hanya Allah dan Rasul-nya yang tahu. Rasul menjawab bahwa orang tadi adalah malaikat Jibril as. Sontak para sahabat terkaget atas kejadian tadi.

Refleksi dari dialog antara malaikat Jibril dan Nabi Muhammad inilah sesungguhnya yang merupakan rumusan Islam sesungguhnya. Islam yang utuh, terdiri dari iman, islam dan ihsan. Inilah islam versi kita, sehingga jika ada di luar itu harus dipertanyakan keshahihannya. Praktik keberagaman kita haruslah memenuhi tiga unsur yakni iman, islam dan ihsan sekaligus. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Untuk mempermudah praktiknya dalam kehidupan sehari-hari, para ulama telah memberi rumusan tertentu. Bagaimana cara meneguhkan iman, menegakan islam dan mengamalkan ihsan. Iman melahirkan ilmu tauhid, kalam dan teologi, sedangkan islam melahirkan ilmu fiqh dan ihsan melahirkan ilmu tasawuf, akhlak, makrifat dan lain sebagainya.

Menurut penganut aswaja, mengamalkan Islam berarti mengamalkan iman, islam dan ihsan sekaligus. Semisal seseorang yang tengah shalat, ia wajib mendasari ibadahnya dengan meyakini bahwa hanya Allahlah yang berhak untuk disembah, inilah iman. Namun, shalat dilaksanakan dengan melakukan syarat sah, wajib, rukun dan lainnya yang menunjukkan inilah islam. Dalam ibadah shalat pun harus dilakukan dengan ketundukan dan kepatuhan yang menunjukkan ihsan. Sehingga antara iman, islam dan ihsan tidak terlepas satu sama lain, namun saling terkait dan tidak terpisahkan sebagaimana dialog

Madzhab aswaja, dalam hal aqidah mengikuti rumusan imam al-asy’ari dan almaturidi, dalam urusan fiqh mengikuti madzhab empat imam, dan urusan tasawuf mengikuti rumusan imam al-ghazali dan imam al-junaid al-baghdadi. Sehingga ketiga aspek dilakukan dengan prinsip-prinsip tawasuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang dalam segala hal), iktidal (tegak lurus), tasamuh (toleransi).

Tetapi karena sifatnya yang rahmatan lil’alamin, penyampaian Islam akan selalu berinteraksi dengan budaya lokal. Islam bukan hanya bagi orang yang ada di semenanjung Arabia, namun untuk manusia yang ada di punggung Bumi maupun di baliknya. Islam harus bisa menjadi rahmat untuk mereka semua, tanpa terkecuali.

Bagaimana Islam menanggapi sebuah perbedaan budaya? Budaya menjadi aspek paling dasar sebagai alat penyampai dalam Islam. Sebagaimana dalam Qs. Ibrahim ayat 4  "kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya supaya dia dapat menjelaskan dengan terang kepada mereka". Bahasa sebagai produk budaya menjadi hal yang penting dalam penyampaian Islam. Pun, misalnya kita tidak bisa memaksakan kaum muslim di tempat lain memakai gamis, meski gamis biasa digunakan dalam masa-masa perkembangan Islam. Sehingga Islam harus tepat untuk segala ruang dan waktu.

Bagaimana agar kita tidak terjebak pada pemahaman dan pengamalan Islam versi sempit?, maka ada baiknya kita perlu menyimak, merenungkan dan mengamalkan praktik keberagaman Islam sebagaimana dialog malaikat Jibril dan baginda Rasulullah. Islam menggabungkan antara iman, Islam dan ihsan secara utuh. Islam tidak ekstrim kanan dan kiri, tetapi penuh keseimbangan, tegak lurus dan penuh toleransi. Insyaallah kita tidak akan terseret pada praktik keberagamaan secara sempit, karena kita berpegang kepada Islam versi iman, islam dan ihsan secara utuh sebagaimana dialog malaikat Jibril dan Rasulullah saw.

Yogyakarta, FIAI.

Minat Belajar Ilmu Falak February 24, 2015

Posted by Anisah in Ilmu Falak. add a comment

Tidak ada kemudahan yang tidak dimulai dengan kesulitan. Itulah cirinya orang yang sedang menuntut ilmu. Apapun yang sedang dipelajari pasti akan ada halangan dan rintangannya. Termasuk dalam mempelajari ilmu ketiga setelah ilmu kedokteran dan ilmu waris yang dipelajari di dalam Islam yaitu ilmu falak. Ilmu falak merupakan cabang rumpun keilmuan astronomi yang membahas tiga benda langit yaitu Bumi, Bulan dan Matahari yang sangat erat terkait dengan penentuan arah dan waktu ibadah. Di dalamnya termasuk melakukan perhitungan seperti menghitung ketinggian matahari dalam menentukan awal waktu shalat, menghitung posisi hilal pada saat akhir bulan hijriyah dan pengamatan seperti mengamati munculnya fajar sebagai tanda awal waktu shalat dan cahayanya hilal untuk menentukan awal bulan hijriyah. (more…)

What should I do now ? February 11, 2015

Posted by Anisah in Kegiatan Kampus UII. add a comment

Melakukan berbagai kegiatan di kampus, sama halnya kita berorganisasi dalam ruang lingkup yang lebih besar, tidak hanya dalam satu kelompok dan homogen. Pasalnya, banyak pekerjaan yang didokumentasikan dalam bentuk ST (Surat Tugas) yang menuntut kita untuk dapat bertanggung jawab dalam satu bidang pekerjaan. Tugas-tugas inilah yang menjadikan saya, tenaga edukatif di UII ini untuk dapat belajar dari hal apapun. Surat tugas untuk dapat bekerja dalam Tim dan juga tugas individu ketika mendapat tugas menghadiri seminar atau workshop untuk berpartisipasi sebagai peserta. (more…)

Pertama kali, siaran di UNISI January 30, 2015

Posted by Anisah in Uncategorized. add a comment

A

Koleksi referensi ilmu falak January 26, 2015

Posted by Anisah in Ilmu Falak. add a comment

Lama sekali  belum membuka blog, namun yang bisa saya tulis di sini seperti postingan di blog pribadi saya, falakiyahniza.wordpress.com, tentang buku-buku yang sudah saya kumpulkan dari semenjak pindah ke Yogyakarta. Jadi postingannya memang hampir mirip. Oke, saya akan urai referensi apa saja yang saya dapatkan selama di sini.  (more…)

Puasa Arafah, ikut pemerintah atau Arab Saudi ? October 1, 2014

Posted by Anisah in Ilmu Falak. add a comment

Puasa Arafah yang akan dilakukan tahun ini diprediksi akan terjadi perbedaan. Perbedaan ini tentu saja membagi antara dua pilihan, apakah ikut wukuf di Arafah ataukah ikut ketetapan pemerintah? Karena jikalau mengikuti ketetapan pemerintah, puasa Arafah akan berbeda dengan waktu Jamaah haji wukuf di Arafah. Waktu wukuf di Arafah pada hari Jumat, 3 Oktober 2014. Sedangkan untuk 9 Dzulhijjah di Indonesia jatuh pada 4 Oktober 2014. (more…)

Menjadi pemandu yang baik September 3, 2014

Posted by Anisah in Kegiatan Kampus UII. add a comment

Adakalanya kita diminta atau ditunjuk untuk dapat berpresentasi dengan baik di hadapan banyak orang. Berpresentasi tidak hanya dilakukan saat kita menjadi narasumber dalam sebuah seminar, workshop ataupun kegiatan akademik, namun juga dilakukan pada pelatihan yang melibatkan mahasiswa menjadi pesertanya.

Untuk menjadi pemandu yang baik diperlukan sebuah trik-trik agar materi atau informasi yang kita punya tidak hanya dapat tersampaikan dengan baik dan difahami, namun juga dapat memberikan inspirasi. Berikut ini adalah ilmu yang penulis dapatkan dari TOT untuk Orientasi Nilai-Nilai Dasar Islam (ONDI) yang diselenggarakan DPPAI Universitas Islam Indonesia yang dipandu oleh Dr. Agus Taufiqurrahman. (more…)

Ilmu Geodesi Tinggi September 1, 2014

Posted by Anisah in Ilmu Falak. add a comment

Dari sekian banyak keilmuan yang dapat menunjang pendalaman terhadap ilmu falak dalam kaitannya mendapatkan posisi yang akurat dan teliti, ilmu geodesi pun nyatanya diklasifikasikan kepada dua tingkatan yakni geodesi tinggi dan geodesi rendah. Dalam kaitannya mencari posisi titik koordinat Bumi, perbedaan antara geodesi tinggi dan geodesi rendah ialah, sangat jelas bahwa geodesi tinggi menganggap bidang Bumi sebagai bidang lengkung, sedang ilmu geodesi rendah menggunakan bidang datar atau bidang bulatan sebagai bagian kecil daripada permukaan Bumi. Ilmu geodesi tinggi menggunakan suatu elipsoid, di mana ia dapat dengan memutar suatu elips dengan sumbu kecilnya sebagai sumbu putar (soetomo, 1981). (more…)

Hisab Awal Bulan Sa'adoeddin Djambek August 28, 2014

Posted by Anisah in Ilmu Falak. add a comment

Tulisan ini merupakan salah satu artikelku yang sudah masuk dalam jurnal bimas islam Kemenag RI. Berikut ini kilasan substansinya. Tulisan ini merupakan hasil analisis terhadap sistem hisab awal bulan qamariyah yang dipakai oleh ketuan Badan Hisab Rukyat pertama di Kemenag RI. Dalam sistem hisabnya ini dibahas aturan atau pedoman yang dipakai dalam perhitungannya dan juga kesesuaiannya dengan sistem hisab yang ada saat sekarang ini. (more…)

Puasa berbeda, kenapa Idul Fitrinya bareng ? August 9, 2014

Posted by Anisah in Ilmu Falak. add a comment

Tidak terasa, waktu terus bergerak dan detik-detik terakhir dalam menjalani ibadah puasa ini akan kita lewati segera. Kita diingatkan kembali untuk dapat merenungkan prosesi ibadah ritual puasa yang telah terlewat sebagai bahan evaluasi dan perbaikan diri. Selain daripada evaluasi terhadap kualitas ketaqwaan, setiap muslim hendaknya menyadari bahwa akan ada penggenapan atau membuat ganjil jumlah hari pada bulan Ramadan tahun ini. Hal ini erat kaitannya dengan pelaksanaan dalam mengawali dan mengakhiri.

(more…)