jump to navigation

Puasa berbeda, kenapa Idul Fitrinya bareng ? August 9, 2014

Posted by Anisah in Ilmu Falak. trackback

Tidak terasa, waktu terus bergerak dan detik-detik terakhir dalam menjalani ibadah puasa ini akan kita lewati segera. Kita diingatkan kembali untuk dapat merenungkan prosesi ibadah ritual puasa yang telah terlewat sebagai bahan evaluasi dan perbaikan diri. Selain daripada evaluasi terhadap kualitas ketaqwaan, setiap muslim hendaknya menyadari bahwa akan ada penggenapan atau membuat ganjil jumlah hari pada bulan Ramadan tahun ini. Hal ini erat kaitannya dengan pelaksanaan dalam mengawali dan mengakhiri.

Kita diingatkan pada hasil sidang isbat yang kemarin digelar Pemerintah pada tanggal 27 Juni dan juga melihat realitas lapangan di mana terdapat perbedaan pelaksanaan ibadah di kalangan masyarakat. Perbedaan dalam mengawali ibadah puasa kemarin setidaknya masih meninggalkan pertanyaan bagi kaum muslimin, apakah idul fitri juga akan berbeda ? pertanyaan ini logis, mengingat masyarakat Indonesia dalam hal memulai ibadah puasa terbagi menjadi dua pilihan, baik itu yang berpuasa pada tanggal 28 Juni dan 29 Juni. Kemudian, bagaimana kondisi prediksi awal Syawal nanti ?

Hilal Syawal berpotensi sama

Selama ini, kita memiliki satu pandangan jika Ramadan berbeda maka bulan berikutnya yaitu Syawal ketika melaksanakan hari raya Idul Fitri akan berbeda pula. Padahal, hal yang perlu digaris bawahi dalam hal ini bukanlah pada kondisi akhir yang harus menggenapkan ramadan menjadi tiga puluh hari bagi mereka yang mengawali puasa pada tanggal 28 Juni atau 29 hari bagi mereka yang mengawali puasa pada tanggal 29 Juni. Karena konsekwensi yang timbul adalah bagi yang memulai puasa 28 Juni maka pada tanggal 27 Juli adalah hari ke 30 dan bagi yang memulai puasa 29 Juni maka pada tanggal 27 Juli adalah hari ke 29. Konsekwensi ini pada dasarnya sangat terkait dengan kondisi hilal (bulan) pada akhir bulan hijriyah, di mana metode hisab dan rukyat dilaksanakan.

Berdasarkan data hisab (perhitungan) yang diambil dari Keputusan musyawarah Jawatankuasa Penyelarasan Rukyat dan Taqwim Islam MABIMS tanggal 1 s.d 5 Juli 1994 di Jakarta dan hasil keputusan Muker Badan Hisab Rukyat tanggal 10 s.d 12 April 2012 di Pontianak Kalimantan Barat menyebutkan bahwa ijtima’ menjelang bulan Syawal nanti terjadi pada Ahad, 27 Juli 2014 pada pukul 05.43 WIB. Kondisi ketinggian hilal di Indonesia berada di antara 2.5 derajat sampai dengan 4.5 derajat di atas ufuk. Kondisi ketinggian hilal yang positif ini sudah memberikan gambaran bahwa prediksi Idul fitri yang akan dirayakan di Indonesia akan bersamaan pelaksanaannya.

Menurut hemat penulis, kondisi hilal pada maghrib pada tanggal 27 Juli ini sangat memungkinkan beberapa pihak seperti ormas Muhammadiyah yang menganut metode wujudul hilal, Persis, NU dan Pemerintah yang menganut imkan rukyat dua derajat akan melakukan keputusan yang sama dengan menegaskan bahwa tepat setelah maghrib pada tanggal 27 Juli sudah masuk tanggal baru yaitu 1 Syawal 1435 H dan keesokan harinya kaum muslimim dapat melaksanakan shalat sunat Idul Fitri. Jelasnya, Muhammadiyah, selaku ormas yang menganut wujudul hilal, tidak akan mengistikmalkan Ramadan karena ketinggian hilal sudah jauh melampaui ketinggian minimal nol derajat. Sedangkan bagi Pemerintah, NU dan Persis yang menganut kriteria imkan rukyat dua derajat akan mempertimbangkan ketinggian yang tidak hanya positif di atas ufuk ini sebagai penanda masuknya tanggal dan terlihatnya hilal.

Titik cerah penyatuan

Dari perbedaan pelaksaan mengawali dan mengakhir bulan Ramadan di Indonesia ini, setidaknya kita menemukan secercah harapan ketika mendengar konferensi pers hasil sidang isbat Ramadan kemarin yang menyebutkan bahwa diskusi kriteria penentuan awal bulan dan persoalan klasik perbedaan hisab rukyat di Indonesia harus tetap gencar dilakukan agar ada titik temu. Mengutip apa yang ditegaskan, Mentri Agama Lukman Hakim Saifudin yang mengatakan bahwa meskipun sebelumnya dilakukan sidang isbat, kemenag melakukan lokakarya yang membahas penentuan awal Ramadan 1435 H, peluang terjadinya perbedaan awal Ramadan masih akan tetap terbuka karena tidak terjadinya titik temu dalam kriteria posisi hilal (bulan). Menag meminta semua pihak untuk menghormati hasil sidang isbat nanti, meski tidak ada paksaan. "Indonesia bukan negara agama seperti Arab Saudi. Jadi Pemerintah tidak bisa memaksakan kehendaknya. Berbeda itu wajar," katanya lagi.

Namun jika kita menganalisa hal ini, ada hal yang perlu kita sadari bahwa perbedaan yang terjadi di masayakat pada dasarnya adalah perbedaan dalam hal mengikuti ketetapan ulil amri. Dalam konteks Indonesia yang memiliki banyak ragam kebudayaan, perbedaan dalam mengawali Ramadan, Idul Fitri atau Idhul Adha khususnya disebabkan dari pada adanya perbedaan ulil amri yang diikuti oleh masyarakat. Padahal dalam konteks ketatanegaraan Indonesia kontemporer, ulil amri termasuk komisi-komisi begara, badan-badan, kementerian dan lembaga lain yang dibentuk untuk urusan penyelenggaraan tugas negara dan kepemerintahan. Dalam hal ini ulil amri adalah ahlu al halli wa al’aqdhi (pemegang otoritas yang mengurai dan mengikat urusan muslimin), yaitu para pemimpin pemerintahan, hakim ulama, petinggi militer dan para pemimpin, yang di tangan mereka tergantung urusan kebutuhan rakyat dan kepentingan umum.

Lebih jauh menganalisis, mempertimbangkan dari adanya pendapat para ulama bahwa penyelenggara negara yang menetapkan suatu kebijakan untuk menetapkan atau meniadakan sesuatu yang dalam masalah fiqh terdapat perbedaan pendapat, maka dalam hal ini rakyat wajib mentaati, jika pertimbangannya adalah kemaslahatan secara objektif. Sehingga dalam konteks ini terdapat relevansi penetapan awal Ramadan, awal Syawal dengan taat pada ketetapan ulil amri. Sebagaimana yang ditegaskan Imam al-Syarwani yang menegaskan bahwa taat pada kebijakan hukumnya adalah suatu keharusan. Contoh penerapan pada kebijakan kekuasan ulil amri berdasarkan kemaslahatan adalah ketika Negara mengatur hal-hal yang mubah seperti halnya pencatatan pernikahan misalnya, dari hukum asal mubah menjadi wajib atas dasar maslahat yang ditetapkan oleh penguasa.

Dengan demikian, gambaran prediksi hilal Syawal nanti yang akan berpotensi sama setidaknya memberikan peluang dan kesempatan lebih lanjut bagi para ahli dan pihak terkait untuk dapat secara lebih komprehensif memahami persoalan klasik tentang perbedaan awal bulan hijriyah di Indonesia dan mencari bahkan menyepakati titik temu penyatuannya. Hal ini juga memberikan peluang bagi masyarakat awam untuk mulai mengetahui dan memahami makna ulil amri yang tidak hanya mengurusi keduniawian, namun hal-hal yang terkait dengan tertibnya pelaksanaan urusan pelaksanaan ibadah mahdhah atas dasar kemaslahatan.

Comments»

no comments yet - be the first?


*