jump to navigation

Hisab Awal Bulan Sa'adoeddin Djambek August 28, 2014

Posted by Anisah in Ilmu Falak. trackback

Tulisan ini merupakan salah satu artikelku yang sudah masuk dalam jurnal bimas islam Kemenag RI. Berikut ini kilasan substansinya. Tulisan ini merupakan hasil analisis terhadap sistem hisab awal bulan qamariyah yang dipakai oleh ketuan Badan Hisab Rukyat pertama di Kemenag RI. Dalam sistem hisabnya ini dibahas aturan atau pedoman yang dipakai dalam perhitungannya dan juga kesesuaiannya dengan sistem hisab yang ada saat sekarang ini.

Perkembangan hisab awal bulan dengan berbagai metode hisab baik urfi, taqribi, tahkiki hingga kontemporer telah mewarnai khazanah keilmuan tentang sistem hisab awal bulan Qamariyah di Indonesia. Dalam Almanak Hisab Rukyat (Depag, 1981:107) disebutkan bahwa Depag cq Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, dalam musyawarah kerjanya tentang evaluasi kegiatan hisab yang dilakukan setiap tahun menggunakan banyak referensi kitab-kitab falak di antaranya Sulamun Nayyirain oleh Muh. Manshur Ibn Abd Hamid, Fathur Roufil Manan oleh Abu Hamdan Abdul Jalil, Khulasotul Wafiyah oleh KH. Zubair, Qowaidul Falakiyah oleh Abd Fatah Ath Thukly, Hisab Urfi dan Hakiki oleh KR. Muh. Wardan, Hisab Hakiki oleh Lembaga falak dan Hisab PP. Muhammadiyah (Sistem New Comb dan Laverier). Namun dari referensi-referensi tersebut, hanya sistem hisab awal bulan Sa’adoeddin Djambeklah yang dijadikan pedoman utama dalam menetapkan awal bulan Qamariah pada waktu 1972. Hal ini bertepatan dengan Sa’adoeddin Djambek menjadi ketua Badan Hisab Rukyat Kemenag RI.

Dengan adanya hal ini, penulis tergugah untuk dapat mengetahui bagaimana konsep hisab yang dulu pertama kali dipedomani oleh Kementerian Agama yakni pada masa Sa’adoeddin Djambek. Karena sampai dengan saat ini, metode yang dipakai Sa’adoeddin yakni Almanak Nautika masih menjadi referensi dalam temu kerja hisab rukyat. Pada waktu itu, metode ini dikembangkan pertama kali oleh Sa’adoeddin sehingga ia dijuluki sebagai mujaddid al-hisab (pembaharu pemikiran hisab) yang menggunakan perhitungan dengan data-data astronomis yang update. Namun demikian, terdapat beberapa konsep Sa’adoeddin Djambek sebagaimana dalam bukunya tidak sepenuhnya dijadikan pedoman.

Apalagi melihat cara penentuan awal bulan qamariyah di Indonesia telah lama dikenal sebagai sebuah problem klasik yang belum kunjung menemukan titik pertemuan. Seolah-olah secara tidak langsung, perhitungan (hisab) dan observasi (rukyat) menjadi masing-masing metode yang berbeda dan terpisah. Sedangkan keilmuan sains tidak pernah terpisah antara prediksi dan pengamatan. Dengan adanya perkembangan keilmuan, di mana teknologi dan ilmu pengetahuan sudah dapat dikolaborasikan, wajar saja jika ide unifikasi kalender hijriyah di Indonesia muncul sebagai upaya Ulil Amri merangkul seluruh umat muslim Indonesia untuk dapat beribadah dengan tenang dan tentram. Karena tidak dapat dipungkiri keyakinan setiap muslim apalagi bagi mereka yang sudah mampu untuk menghisab dan memiliki metode-metode yang berbeda dapat menjadikan masyarakat bingung. Kebingungan ini seharusnya menjadi tanggung jawab para ahli untuk dapat memberi pemahaman. Namun tidak demikian di Indonesia, banyaknya informasi seperti hasil rukyat Cakung yang terkadang selalu hampir berbeda membuat masyarakat semakin tidak memahami apa sebenarnya motif di balik perbedaan yang sedang terjadi. Padahal, hasil rukyat di Cakung terkenal dengan metode hisab yang masih taqribi, sehingga untuk keakuratan data masih dipertanyakan kevalidannya.

Oleh karena itu, unifikasi kalendar hijriyah di Indonesia menjadi sangat penting. Dengan mengupayakan adanya kajian maupun penelitian untuk semakin terbuka menilai berbagai macam sistem hisab yang berkembang, yang salah satunya adalah hisab Sa’adoeddin Djambek. Tentunya, hal ini menjadi suatu alasan untuk dapat mengetahui konsep-konsep Sa’adoeddin Djambek cocok atau tidak dengan kriteria yang diharapkan oleh satu kalender hijriyah. Sehingga kajian ini akan menarik manakala konsep hisab Sa’adoeddin Djambek dapat diurai untuk diketahui konsep perhitungan, penentuan, dan kriterianya.

Permasalahan
1. Bagaimana konsep hisab Sa’adoeddin Djambek dalam menentukan awal bulan Qamariyah ?
2. Apakah konsep hisab Sa’adoddin Djambek cocok dijadikan kriteria dalam unifikasi kalendar hijriyah di Indonesia ?

Intelektual Sa’adoeddin Djambek
Sa’adoeddin Djambek lahir di Bukit Tinggi, Jum’at Legi 24 Maret 1911 M/23 Rabiul Awal 1329 H dan meninggal dunia pada hari Selasa, 22 November 1977/10 Dzulhijjah 1397 H di Jakarta. Makamnya dekat dengan makam Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy . Ia merupakan putra ulama besar Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860-1947 M/ 1277-1367 H) dari Minangkabau. Sa’adoeddin Djambek memulai pendidikan formalnya ketika memperoleh pendidikan pertamanya di HIS (Hollands Inlandsche Kweekschool). Setelah tamat dari HIS pada 1927 M/ 1346 H, ia meneruskannya lagi ke (HKS) Hogere Kweekschool, sekolah pendidikan guru atas di Bandung Jawa Barat dan memperoleh ijazah pada tahun 1930 M/1349 H. Selama empat tahun (1930-1934 M/ 1349-1353 H) ia mengabdikan diri sebagai guru Gouvernements Schakelschool di Perbaungan, Palembang. Setelah menjalani tugasnya sebagai guru di Palembang, ia berusaha melanjutkan pendidikannya dengan mengajukan permohonan untuk dipindahtugaskan ke Jakarta agar dapat melanjutkan pendidikan lebih tinggi, (Azhari, 2008: 185).

Di Jakarta ia bekerja sebagai guru Gouvernement HIS nomor 1 selama setahun. Pada 1935 M/ 1354 H ia memperoleh kesepakatan untuk melanjutkan pendidikan ke Indische Hoofdakte (program diploma pendidikan) di Bandung sampai memperoleh ijazah pada 1937 M/ 1356 H. Pada tahun yang sama memperoleh ijazah bahasa jerman dan bahasa Perancis. Setelah mengikuti pendidikan di Bandung, ia kembali menjalankan tugasnya sebagai guru Gouvernement HIS di Simpang Tiga, Sumatera Timur (sekarang Riau).

Sebagai seorang guru, ia tidak pernah berhenti mengembangkan pendidikannya. Karirnya terus meningkat dari guru sekolah dasar sampai dengan menjadi dosen di Perguruan Tinggi dan terakhir menjadi pegawai tinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, (Azhari, 2008: 186).

Ketertarikannya mempelajari ilmu hisab dimulai pada tahun 1929 M/ 1348 H ketika ia berusia 18 tahun belajar dengan Syekh Taher Jalaluddin Al-Azhari yang mengajar yang mengajar di Al-Jami’ah Islamiyah Padang . Pertemuan dengan gurunya itu membekas dalam dirinya hingga menjadi awal pembentukan keahliannya di bidang hitung menghitung penanggalan. Ia belajar kitab Pati Kiraan karya Syaikh Thahir Jalaludin, Almanak Jamiliah karya Syaikh Djambek, dan Hisab Hakiki karya KH. Ahmad Badawi. Sehingga jika disusun biografi intelektualnya dalam bidang falak, ia merupakan generasi ke empat dari Ahmad Khatib, Syekh Thahir Jalaluddin, dan ayahnya Syaikh Djambek.

Untuk memperdalam pengetahuannya ia kemudian mengikuti kursus Legere Akte Ilmu Pasti di Yogyakarta pada tahun 1941-1942 M/ 1360-1361 H serta mengikuti kuliah ilmu pasti dan astronomi pada FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) di Bandung pada 1954-1955 M/ 1374-1375 H. Keahliannya di bidang ilmu pasti dan ilmu falak dikembangkannya melalui tugas yang dilaksanakannya di beberapa tempat. Pada 1995-1956 M/ 1375-1376 H menjadi Lektor kepala dalam mata kuliah ilmu pasti pada PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) di Batusangkar, Sumatera Barat. Ia memberi kuliah ilmu falak sebagai dosen tidak tetap di Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1959-1961 M/ 1379-1381 H), (Azhari, 2008: 187). Sa’adoedin Djambek merupakan tokoh ilmu falak yang mempelopori perhitungan ilmu falak dengan menggunakan data astronomis dari negara-negara maju seperti Almanak Nautika dari Amerika dan Ephemeris dari Uni Soviet.

Selain sebagai ahli falak, di antara aktivitas paling dominan yakni dalam pendidikan melalui Muhammadiyah. Aktivitasnya tersebut pada gilirannya memperoleh pengakuan dari warga Muhammadiyah, sehingga pada tahun 1969 diberi kepercayaan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjadi ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran di Jakarta periode 1969-1973. Sebagai seorang tokoh, Sa’adoedin Djambek tidak jarang mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak. Ia pernah diberi kepercayaan untuk menjadi staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Di samping itu, pada tahun 1972 pada saat diadakan musyawarah ahli Hisab dan Rukyat seluruh Indonesia, di mana disepakati dibentuknya Badan Hisab dan Rukyat, Ia dipilih dan dilantik sebagai ketua.

Kunjungan ke luar negeri yang pernah dilakukan Sa’adoeddin Djambek antara lain menghadiri konferensi Mathematical Education di India (1958), mempelajari System Comprehensive School di negara-negara seperti India, Thailand, Swedia, Belgia, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang (1971), penelitian/ survey mengembangkan ilmu hisab dan rukyat dan kehidupan sosial di Tanah Suci Mekah dan menghadiri First World Conference on Muslim Education di Mekah pada tahun 1977, (Azhari, 2002: 52).

Sebagai ahli falak, ia banyak menulis tentang ilmu hisab. Di antara karya-karyanya adalah (1) Waktu dan Djadwal Penjelasan Populer Mengenai Perjalanan Bumi, Bulan, dan Matahari (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas tahun 1952 M/1372 H), (2) Almanak Djamiliyah (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas tahun 1953 M/ 1373 H), (3) Arah Qiblat (diterbitkan oleh Tintamas pada tahun 1956 M/ 1380 H), (4) Perbandingan Tarich (diterbitkan oleh Tintamas pada tahun 1968 M/ 1388 H), (5) Pedoman Waktu Shalat Sepanjang Masa (diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1974 M/ 1394 H), (6) Shalat dan Puasa di Daerah Kutub (diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1974 M/ 1394 H), dan (7) Hisab Awal Bulan (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas Jakarta pada tahun 1976 M/ 1396 H). Namun karya yang menjadi ciri khas pemikirannya ialah Hisab Awal Bulan.

Kajian Buku Hisab Awal Bulan Sa’adoeddin Djambek
Buku berjudul Hisab Awal Bulan karya Sa’adoeddin Djambek ini adalah buku cetakan pertama yang diterbitkan oleh penerbit Tinta Mas Jakarta tahun 1976. Buku ini mencerminkan konsep-konsep astronomi yang difahami oleh Sa’adoeddin. Dalam bukunya terdapat empat pembahasan yang menggambarkan konsep dasar tentang hisab awal bulan. Pada baba pertama membahas tentang gerak bumi, bulan, dan matahari yang terdiri dari uraian tentang bumi dan matahari, bulan dan bumi, lalu bumi, bulan, dan matahari, dan pembahasan barat dan timur.

Bab kedua menjelaskan tentang konsep terbenam dengan uraian pengenalan aspek-aspek penting yang terkait seperti (a) definisi terbenam, (b) refraksi, (c) kerendahan ufuk, (d) parallaks, dan (e) juga membahas data-data hisab yang terdiri dari data lintang tempat, deklinasi, perata waktu, tinggi, sudut waktu, dan azimuth. Bab ketiga, berbicara tentang hisab awal bulan. Terdiri dari koreksi-koreksi, algoritma (jalan) hisab, kemudian perhitungan azimuth. Bab keempat yaitu pembahasan terbenamnya bulan, pengenalan titik batas, garis batas tanggal, ketelitian perhitungan, dan penjelasan tentang pembelokkan garis batas hari. Halaman lampiran terdiri dari daftar refraksi, daftar kerendahan ufuk, tabel memindahkan menit dan detik menjadi bagian jam, tabel memindahkan derajat menjadi bagian lingkaran dan sebaliknya, dan tabel memindahkan derajat menjadi bagian 10o, 5o, dan 2o beserta contohnya.

Algoritma Hisab Awal Bulan Sa’adoeddin Djambek
Algoritma hisab awal bulan karya Sa’adoedin Djambek dimulai dari menghisab :
1) waktu terbenam matahari,
2) menentukan data-data bulan,
3) menghisab tinggi bulan,
4) melakukan koreksi terhadap tinggi bulan.
5) Kemudian pada bab terpisah, Sa’adoeddin memakai penentuan garis batas tanggal terbitnya bulan.
Contoh perhitungan bentuk file

Analisis Hisab Awal Bulan Sa’adoeddin Djambek
Berdasarkan penelusuran terhadap hisab awal bulan Sa’adoeddin Djambek, maka dapat disebutkan bahwa sistem perhitungan yang dipergunakan Sa’adoeddin Djambek menggunakan spherical trigonometry dengan menggunakan data almanak nautika. Konsep perhitungannya menggunakan perhitungan astronomi yang mencoba untuk mempertimbangkan posisi toposentrik dalam melakukan koreksi terhadap data bulan.

Konsep Hisab Awal Bulan Sa’adoeddin Djambek
Konsep hisab Sa’adoeddin Djambek pada dasarnya sederhana karena menggunakan dua cara yakni menggunakan logaritma dan kalkulator. Menurutnya sistem perhitungan di dalam ilmu falak adalah menggunakan segitiga bola langit, (Djambek, 1976: 20). Sehingga berdasarkan pada data yang digunakan bersifat geosentris, maka hasil hisab pun akan bersifat geosentris pula. Artinya, bila hasil hisab menunjukkan bahwa bulan berkedudukan sekian derajat di atas ufuk, maka itu adalah menurut keadaan si pengamat dikhayalkan bermarkaz di titik pusat bumi. Sedangkan bagi pengamat yang berada di atas permukaan bumi memerlukan koreksi untuk disesuaikan dengan keadaannya (toposentrik).

Dalam konsep hisabnya, perhitungan yang dikerjakan hanya bertujuan untuk memastikan apakah pada waktu perpindahan siang menjadi malam, bulan berada di timur atau barat matahari terbenam, sehingga wajar jika dalam perhitungannya ia melihat hilal sebagai bulan (al-qomar), sebagaimana pada bukunya di hlm. 15-16 :
“Yang harus dilakukan dalam menghisab jatuhnya tanggal satu bulan baru tidak lain Matahari ditempatkan pada posisi terbenam. Lalu ditentukan posisi bulan. Bila bulan berkedudukan di sebelah timur garis ufuk dan sekaligus di sebelah timur matahari; bulan baru sudah ada atau : hilal sudah wujud”

Ia menyimpulkan bahwa yang harus dilakukan bukanlah menentukan tinggi bulan di atas ufuk mar’i di kala matahari terbenam pada tanggal 29 hari bulan qamariyah, tetapi kita disuruh untuk meyakini, apakah pada pertukaran siang kepada malam bulan sudah berkedudukan di sebelah timur matahari ataukah masih sebelah baratnya. Hal ini untuk memenuhi syarat yang telah disebutkan dalam Qs. Al-Baqarah ayat 185.

Meskipun demikian, ia tetap mengakui bahwa cara mengetahui tanggal satu itu bermacam-macam. Seseorang dapat melihat hilal sudah di sebelah timur matahari dengan mata kepala sendiri pada waktu matahari telah terbenam atau seorang ahli hisab dapat mengetahui kedudukan bulan melalui hitungannya yang teliti. Bagian terbesar umat Islam mengetahui masuknya bulan Ramadhan dari berita yang sah mengenai rukyatul hilal, atau dari pemberitahuan hasil hisab seorang ahli hisab yang dipercaya atau dari pengumuman instansi resmi yang berwenang.

Dalam bab tersendiri, Ia melakukan semacam pembuatan garis batas tanggal dengan memanfaatkan data waktu terbenam matahari dan bulan pada Nautical Almanac. Dengan memanfaatkan data ini, ia dapat membuat garis batas tanggal, sehingga akan terlihat wilayah mana saja ketika jatuhnya tanggal baru. Pemilihan batas hari didasarkan pada perhitungan kasar posisi terbenam matahari dan bulan pada waktu yang sama yang berasal dari data almanak nautika. Sehingga sangat memungkinkan adanya garis yang dapat dibentuk untuk menunjukan daerah yang mengalami jatuhnya tanggal 1 dan 2 bulan hijriyah.

Dalam perhitungan yang dilakukan Sa’adoeddin Djambek dalam bukunya, ia hanya menggunakan koreksi paralaks bulan, namun tidak menggunakan paralaks matahari, ini disebabkan karena ketelitian yang diperhatikan hanya sampai satuan menit. Untuk matahari yang berjarak dari bumi sebesar 150.000.000 km, berparalaks 0.0024 derajat atau 8.8’. Sehingga paralaks matahari tidak diperhatikan atau dianggap sebesar nol. Dengan kata lain nilai tinggi geosentris dan tinggi toposentris matahari diperhitungkan sama besar.

Input Data Hisab Awal Bulan Sa’adoeddin Djambek
Data yang digunakan oleh Sa’adoeddin Djambek dalam menentukan awal bulan Qamariah adalah data-data yang bersumber dari Nautical Almanac (Nautical Almanak yang dibuat Indonesia diterbitkan oleh Hidrografi Angkatan Laut), sehingga markaz dalam penentuan awal bulan dalam buku ini menggunakan data Greenwich. Data ini juga dipakai di beberapa negara, terutama untuk kepentingan pelayaran, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Brasilia, Danish, Greek, India, Italia, Korea, Meksiko, Norwegia, Peru, dan Swedia. Di Indonesia, almanak tersebut diterbitkan ulang sesuai dengan naskah aslinya oleh Markas Besar TNI angkatan laut jawatan Oseanografi Jakarta, (Depag,1981:103).

Proses kerja perhitungan yakni ketika mengambil data, yakni sebagaimana ketika pengambilan data deklinasi yakni tidak teliti sampai menit dan detik. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa perubahan deklinasi matahari dari jam ke jam hanya kecil sekali. Data-data yang ada dalam Almanac Nautika ini bersifat geosentris, yakni menggunakan titik pusat dari keberadaan setiap benda langit baik matahari maupun bulan. Sehingga nilai dari setiap benda langit merupakan posisi pusat benda tersebut di dalam bola langit.
Sistem Nautical Almanac ini pertama sekali dikembangkan di Indonesia oleh H. Sa’adoeddin Djambek .

Sehingga Sistem awal bulan Sa’adoeddin Djambek wajar menjadi pedoman penentuan awal bulan disebabkan karena data yang dipergunakan bersumber dari almanak yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga bertaraf internasional yang sangat ahli dalam bidang astronomi.

Kriteria penentuan masuknya tanggal
Dalam bab tersendiri, Sa’adoeddin menjelaskan tentang pembuatan garis tanggal hijriyah, di mana ini menunjukkan adanya konsep baru untuk mengetahui garis batas tanggal hanya dengan data terbenam matahari dan bulan. Sejatinya, Sa’adoeddin Djambek tidak memiliki kriteria dalam menentukan tanggal pertama bulan hijriyah. Ia mengakui bahwa banyak metode yang dipakai untuk menentukan tanggal pertama bulan hijriyah. Ia hanya membuat garis tanggal dengan menggunakan data terbenam matahari dan bulan pada almanak nautika dan konsepnya tersebut dapat dikatakan sebagai ide awal yang pada mayoritas kitab maupun buku ilmu falak tidak memiliki konsep itu.

Dalam konsep pembuatan garis batas tanggal Sa’adoeddin, memiliki konsekwensi di mana ketika garis batas tanggal memotong tengah-tengah sebuah kota, pulau, provinsi atau negara sekalipun, maka dalam hal ini yang dilakukan adalah menariknya ke arah barat. Sehingga jikalaupun bagian wilayah X yang secara teoritik adalah sudah mulai untuk berpuasa (timur), dan daerah Y belum, maka daerah wilayah X yang mungkin dapat melihat hilal, dianggap tidak melihatnya dan mengikuti daerah Y yang sama sekali tidak memungkinkan melihat bulan.

Dengan demikian berlaku ketentuan bahwa semakin ke barat suatu tempat makin terlambat bulan terbenam di tempat itu. Sebaliknya semakin ke timur letak suatu tempat maka bulan terbenam terlebih dahulu. Sehingga bagi tempat yang letaknya di sebelah barat bujur 0o maka yang harus diperhatikan adalah terbenam bulan hari berikutnya. Sedangkan bagi tempat di sebelah timur 0o maka yang diperhatikan adalah terbenam bulan pada dari sebelumnya.

Alasan yang ia kemukakan berdasaran pada hadis riwayat bukhari : berpuasalah kamu bila melihat bulan dan berbukalah bila melihatnya, jika ada awan hendaklah kamu sempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari. Sa’adoeddin Djambek menyimpulkan bahwa tujuan hisab adalah memastikan, apakah pada waktu perpindahan siang menjadi malam, bulan sudah ada di sebelah timur matahari ataukah masih di sebelah baratnya.

Klasifikasi sistem hisab
Sistem perhitungan yang dilakukan oleh para ahli hisab ada dua macam yaitu: a) sistem tabel, yaitu menjadikan posisi bulan dan matahari pada saat penyusunan data sebagai pedoman, lalu diadakan penambahan gerak rata-rata sejak waktu itu sampai perhitungan dilakukan dibarengi dengan koreksi-koreksi yang diperlukan sehingga menghasilkan posisi sebenar-benarnya pada saat perhitungan dilakukan. b) sistem matematik, yaitu dengan mempergunakan kaidah-kaidah spherical trigonometry (ilmu ukur segitiga bola), (Depag, 1981: 111).

Berdasarkan pada sistem perhitungan yang mengklasifikasikan kedua sistem tersebut, maka sistem perhitungan Sa’adoeddin Djambek termasuk pada sistem hisab yang menggunakan sistem matematik, yaitu perhitungan diselesaikan dengan kaidah-kaidah spherical trigonometry. Namun pada saat ini, sistem hisab dalam buku ini belum sampai pada koreksi-koreksi lain yang mewakili hisab kontemporer saat ini seperti pada Jean Meuus. Hisab kontemporer saat ini, salah satu diantaranya memperhatikan koreksi benda-benda langit berupa planet-planet yang mempengaruhi penentuan new moon.

Urgensi Unifikasi Kalendar Hijriyah
Point penting dari adanya unifikasi kalendar hijriyah di Indonesia adalah adanya ketersinggungan antara teori ilmu falak dengan aplikasi di lapangan yang menghasilkan kesimpulan penentuan awal tanggal hijriyah berbeda-beda. Pengambilan makna ayat dan hadits dari Rasulullah saw tidak seluruhnya diartikan sama. Pendefinisian kata rukyat dalam sebuah hadits menimbulkan pemaknaan yang beragama sehingga metode untuk memperoleh nisbah makna itu pun berkembang seiring dengan teknologi dan keilmuan sebagaimana hadist berikut ini:

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Bila hilal tertutup debu atasmu maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari”. (Muttafaq Alaih)
Namun tidak berhenti pada hadits ini saja, ayat yang dijadikan acuan penentuan awal bulan yakni al-Baqarah ayat 189 masih dalam pilihan pemaknaan, yakni

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” (QS. Al-Baqarah [2]: 189)

Pada ayat di atas, terdapat kata al ahillah yang dipahami sebagai kata jamak dari hilal. Hilal sendiri populer dipahami sebagai bentuk bulan sabit muda yang paling awal dapat dilihat sebagai tanda awal bulan. Al-ahillah dalam pengertian ini dipahami sebagai kumpulan hilal awal bulan, yang menandai tanggal 1 setiap bulan dalam kalender hijriah. Namun pada kenyataannya setiap golongan memiliki pendefinisian berbeda-beda terkait Al-Hilal ini.

Hal ini menunjukkan bahwa sampai saat ini, upaya unifikasi dengan adanya proses kriteria imkanrukyat yang telah dibentuk nantinya akan berujung pada sebuah keseragaman dalam menetapkan awal bulan. Perbedaan yang semakin meregang apalagi ditambah dengan golongan-golongan lain yang muncul dengan sistem hisabnya kiranya sangat tidak diinginkan. Kepentingan ini semakin perlu dilakukan karena kita mengetahui sendiri bahwa objek benda langit yang dihitung sama, sedangkan hasil perhitungan berbeda-beda.

Melihat cara pandang masyarakat Indonesia yang memiliki kultur bermacam-macam, terdiri dari banyak kalangan keilmuan dari yang bersifat tradisional, kontemporer maupun hanya menjdi pengikut. Perkembangan keilmuan yang berproses seyogyanya mengerucut pada satu kesimpulan bahwa penentuan waktu dalam ibadah sudah tersusun dengan rapi.

Kritik Hisab Awal Bulan Sa’adoeddin Djambek
Memandang unifikasi sebagai sebuah persoalan yang penting, maka konsep hisab Sa’adoeddin Djambek dari sudut pandang ilmu falak, menurut penulis dinilai kurang dapat dipertimbangkan menjadi kriteria. Alasan ini dikaitkan dengan syarat yang termasuk ke dalam unifikasi kalender hijriyah. Di mana titik aman kriteria itu yang dapat diambil dari semua perbedaan kriteria yang ada di Indonesia atau dapat diambil mendekati kriteria imkan rukyat yang sementara ini disepakati.

Dalam hisab Sa’adoeddin Djambek terdapat konsep penentuan garis batas tanggal yang pada saat ini caranya digunakan pula oleh BMKG, namun hal ini kurang memenuhi karena hanya bersifat perkiraan secara global. Pengambilan garis tanggal bisa saja diterapkan namun dalam konteks negara Indonesia yang memiliki konsep mathla wilayatul hukmi, hendaknya terdapat kesepakatan yang disepakati oleh semua pihak.

Dalam perhitungan Sa’adoeddin Djambek dalam bukunya, ia hanya menggunakan koreksi paralaks bulan, namun tidak menggunakan paralaks matahari. Hal ini dengan dasar pertimbangan ketelitian yang diperhatikan hanya sampai satuan menit. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki konsep hilal yang difahami bermakna bulan (al-qomar). Dalam bukunya ia menganggap bahwa bukan cahayanya yang dihitung namun bulannya itu sendiri. Ini dibuktikan dengan adanya koreksi paralaks bulan yang dimasukkan ke dalam sistem perhitungannya. Padahal, pemaknaan hilal dalam kacamata ilmu falak dan ilmu astronomi dimaknai bulan sebagai awal tanggal yakni bulan sabit yakni (yang memiliki makna bulan sabit atau 2 malam dari awal bulan), (Bisri, 1999:769)

Kesimpulan
Berdasarkan analisis daripada apa yang telah dipaparkan sebelumnya, maka makalah ini memiliki beberapa kesimpulan yakni :
1. Konsep hisab Sa’adoeddin Djambek dalam menentukan awal bulan Qamariyah termasuk pada sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah trigonometri bola dan sistem perhitungannya sudah memakai data-data astronomis yang modern. Sehingga ketika dianalisis dengan membandingkan perhitungannya dengan sistem ephemeris yang Kementerian Agama pakai, tidaklah berbeda jauh (hanya dalam satuan menit).

2. Hisab Sa’adoeddin Djambek kurang cocok dijadikan kriteria dalam unifikasi kalendar hijriyah di Indonesia. Hal ini dilandasi dari adanya konsep hilal yang beliau fahami hanya berbentuk bulan (al-qomar) saja. Sedangkan dalam astronomi modern, hilal dikatakan sebagai sebuah fase bulan pertama yang berbentuk sabit dan hanya cahayanya saja yang terlihat. Kemudian prinsip nol derajat di atas permukaan laut yang digunakan untuk membuat garis batas tanggal hijriyah dalam bukunya adalah konsep yang perlu diapresiasi karena ia adalah konsep pertama yang ada dalam buku-buku falak klasik. Namun, dalam kepentingan unifikasi ini tetap terbentur pada kriteria, sehingga batasan tanggal hijriyah ini cukup menjadi perkiraan global saja.

Daftar Bacaan
Ali, Hamdany, Himpunan Keputusan Menteri Agama, Jakarta, Lembaga Lektur Keagamaan, 1973.
Azhari, Susiknan, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, Cet. Ke-2, 2008.
, Pembaharuan Pemikiran Hisab di Indonesia, Studi atas Pemikiran Saadoe’ddin Djambek, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002.
Depag, Almanak Hisab Rukyat, Jakarta, Proyek Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam, 1981.
Djambek, Saadoeddin, Waktu dan Djidwal (Penjelasan Populer mengenai Perdjalanan Bumi, Bulan, dan Matahari), Jakarta, Tintamas, Cet. Ke 2, 1953.
, Perbandingan Tarich, Jakarta, Tintamas, 1968.
, Shalat dan Puasa di Daerah Kutub, Jakarta, Bulan Bintang, 1974.
, Hisab Awal Bulan, Jakarta, Tintamas, 1976.
Izzuddin, Ahmad, Ilmu Falak Praktis (Metode Hisab-Rukyat Praktis dan Solusi Permasalahannya), Semarang, Komala Grafika, 2006.
, Fiqh Hisab Rukyah (Menyatukan NU dan Muhammadiyah dalam Penentuan Awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha), Jakarta, Erlangga, 2007
Freely, John, Cahaya dari Timur; Peran Ilmuan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat, Jakarta, PT. Elex Media Komputindo, 2011.
Pardi, M., Almanak Nautika, Jakarta, Gunung Agung, Cet. Ke-2, 1968.
Rojak, Encep Abdul, Hisab Awal Hijriyah Kontemporer, Semarang, 2012
Saifuddin, Ahli Falak dalam Pesantren, 2012.
Shiddiqi, Nourouzzaman, Fiqh Indonesia Penggagas dan Gagasannya, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1997.

Website

http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_iii/07210042-keki-febriyanti.ps

http://www.tecepe.com.br/ (data Nautical Almanac).

http://www.noltime.com/menghitung-l-h-a-matahari-dan-declination.html

http://navsoft.com/downloads.html

Comments»

no comments yet - be the first?


*