jump to navigation

Menjadi pemandu yang baik September 3, 2014

Posted by Anisah in Kegiatan Kampus UII. trackback

Adakalanya kita diminta atau ditunjuk untuk dapat berpresentasi dengan baik di hadapan banyak orang. Berpresentasi tidak hanya dilakukan saat kita menjadi narasumber dalam sebuah seminar, workshop ataupun kegiatan akademik, namun juga dilakukan pada pelatihan yang melibatkan mahasiswa menjadi pesertanya.

Untuk menjadi pemandu yang baik diperlukan sebuah trik-trik agar materi atau informasi yang kita punya tidak hanya dapat tersampaikan dengan baik dan difahami, namun juga dapat memberikan inspirasi. Berikut ini adalah ilmu yang penulis dapatkan dari TOT untuk Orientasi Nilai-Nilai Dasar Islam (ONDI) yang diselenggarakan DPPAI Universitas Islam Indonesia yang dipandu oleh Dr. Agus Taufiqurrahman.

Hal pertama yang harus menjadi mind set kita sebagai pemandu ketika akan menyampaikan informasi adalah dengan menganggap bahwa orang yang akan kita hadapi memiliki bekal ilmu pengetahuan. Sehingga sebagai pemateri atau orang yang berpresentasi tidak meletakan posisi dirinya yang paling pintar di ruangan itu. Mind set awal yang seperti ini dapat membantu usaha kita untuk mensuasanakan ruangan menjadi pelatihan yang menggembirakan dan menyenangkan. Learning is fun, adalah sebuah kata-kata yang harus ditanamkan pada peserta agar mereka semangat. Semangat pelatihan adalah berawal dari kesedihan dan berubah menjadi sebuah kegembiraan.

Bagi pemandu, posisi awal sebelum memberikan informasi adalah dengan menjadikan dirinya sebagai murid pertama. Pemandu terlebih dahulu memahami materi dan menjadikan materi tersebut sebagaimana dalam kesehariannya, dalam perilakunya. Dalam bahas psikologi yakni melakukan refleksi diri, menjadi cermin untuk dapat memperbaiki dirinya terlebih dahulu sebelum mengajarkan atau menyampaikannya pada orang lain. Terutama jika materi yang kita sajikan adalah hal yang berkaitan dengan agama, akhlak, ibadah dan sebagainya.

Ketika memasuki ruangan, kesan pertama menjadi kunci pengikat peserta dalam waktu 20 menit selanjutnya. Jika lima menit pertama kesannya sangat menggoda, maka 20 menit selanjutnya adalah milik sang pemandu. Kesan pertama wajib dilakukan dengan sebuah senyuman. Beruntung bagi mereka yang diberikan Allah wajah “open”, diamnya saja terlihat tersenyum, dapat memberikan kesan pertama yang tidak terlalu susah. Sehingga kunci wajib terdapat pada senyuman. Jika bisa, kita dapat menyesuaikan gaya berpakaian kita sebagaimana jenis acara yang kita ikuti. Misalnya bagi laki-laki, jika kita berhadapan dengan mahasiswa dalam acara pelatihan orientasi baru mereka pertama kali, maka akan lebih baik jika pakaian kita tidak memakai kemeja atau batik lengan panjang. Kemeja dengan tang pendek terlihat lebih friendly dan ramah untuk dapat dilihat sebagai narasumber atau pemateri. Lain lagi jika kita berperan sebagai orang yang akan berkhutbah, maka pakaian dengan lengan panjang dan sarung akan lebih menyejukan dipandang para jamaah.

Sebagai pemandu, kita harus bisa mengajak audiens untuk dapat kreatif, sehingga suasana ruangan tidak terkesan kaku dan menimbulkan efek kantuk yang menular. Karena dapat dipastikan, jika audiens kita mahasiswa, tentunya kita sebagai pemandu harus dapat mengajak mereka dalam suasana yang menyenangkan, ringan dan membahagiakan. Sesekali dalam acara itu, pemandu dapat melakukan ice breaking yang dapat membuat suasana ruangan terasa lebih bersemangat. Senam otak dengan cerita tini tono ayah ibu, dapat membuat peserta lebih terbangun dari rasa kantuknya.

Dalam menutup acara, akan lebih baik mengakhiri pembicaraan ketika puncak-puncaknya pembicaraan. Laiknya cerita sinetron yang ada to be continue-nya, maka akan lebih terkesan dan terlihat baik, kita menutup acara di puncak pembicaraan. Materi yang kita sajikan dapat difahami namun di sisi lain sekaligus memberikan rasa penasaran agar mereka ingin lebih mengetahui informasi kita lebih mendalam dan detail.

Hal terakhir, yang penting sekali untuk dapat dilakukan adalah ketika pemandu memberikan materi disesuaikan dengan alokasi waktu yang disediakan panitia. Jangan sampai ilmu yang kita miliki disampaikan kepada peserta tanpa melihat kebutuhan yang ada. Berbicaralah dengan alasan atau argumen yang jelas sehingga peserta tidak tergantung dalam kesamaran.

Comments»

no comments yet - be the first?


*