jump to navigation

Puasa Arafah, ikut pemerintah atau Arab Saudi ? October 1, 2014

Posted by Anisah in Ilmu Falak. trackback

Puasa Arafah yang akan dilakukan tahun ini diprediksi akan terjadi perbedaan. Perbedaan ini tentu saja membagi antara dua pilihan, apakah ikut wukuf di Arafah ataukah ikut ketetapan pemerintah? Karena jikalau mengikuti ketetapan pemerintah, puasa Arafah akan berbeda dengan waktu Jamaah haji wukuf di Arafah. Waktu wukuf di Arafah pada hari Jumat, 3 Oktober 2014. Sedangkan untuk 9 Dzulhijjah di Indonesia jatuh pada 4 Oktober 2014.

Terkait perbedaan ini, saya akan menjawabnya dengan beberapa petunjuk dalil yang telah disebutkan dalam beberapa hadits. Pertama, hadis dari Abu Qotadah terkait puasa arafah yang merupakan amalan yang disunnahkan bagi orang yang tidak berhaji, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Dari keterangan hadits ini disimpulkan bahwa puasa arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Yang dapat kita simpulkan tidak mungkin tanggal untuk berpuasa arafah dapat dlakukan dalam waktu dua hari (berbeda).

Dalil kedua adalah peristiwa pada zaman Rasululh ketika salah seorang sahabat melihat hilal di Syam dan Rasul memerintahkan untuk mengikuti hilal di masing-maing tempat. Riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ

“Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087).

Hadis ini kiranya menjadi gambaran bahwa Rasulullah saw mmemerintahkan kita untuk berpuasa dengan menjadikan hilal sebagai patokannya.

Dari dua dalil ini kiranya yang dapat saya simpulkan dan kaitkan satu sama lain adalah puasa arafah bagi mereka yang tidak berhaji dilakukan di bulan dzulhijjah pada tanggal 9 dengan melihat kondisi hilal di masing-masing daerah.

Untuk posisi di Indonesia yang secara geografis terletak di timurnya Saudi Arabia, kiranya akan terjadi perbedaan dalam mengawali bulan Dzulhijjah. Pada saat ijtima tanggal 24 september yang bertepatan dengan 29 Dzulqo’dah, ketinggian hilal di Indonesia belum cukup meenuhi kriteria imkan rukyat sebagaimana yang dipedomani Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Agama RI. Sehingga akan terjadi penggenapan (istikmal) dengan menggenapkan bulan Dulqo’dah menjadi 30 hari dan awal bulan Dzulhijjah jatuh bertepatan dengan tanggal 26 September. Dengan demikian, puasa arafah yang akan dilaksanakan 9 Dzulhijjah tahun ini bertepatan dengan sabtu, 4 Oktober 2014 dan pelaksanaan Idul Adha adalah Ahad, 5 Oktober.

Kiranya, dengan adanya perbedaan pelaksanaan Idul Adha ini menimbulkan beberapa dampak, di antaranya masyarakat awan ketika menyikapi perbedaan ini akan bingung, kapan Idhul Adha dan kapan mereka berpuasa. Sehingga solusi yang dapat saya tawarkan adalah dengan mengikuti ulil amri yang mengurus pelaksanaan ibadah kita di Indonesia, dalam hal ini Kementrian Agama. Sebagaimana dalam hadis yang menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani).

Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits ini berkata,

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ

“Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Yang dimaksud Abu ‘Isa At Tirmidzi adalah berpuasa dengan pemerintah (ulil amri), bukan dengan ormas atau golongan tertentu.

Hadits di atas menunjukkan bahwa berpuasalah dan berhari rayalah bersama pemerintah. Kalau ketetapan pemerintah berbeda dengan wukuf di Arafah, tetap ketetapan pemerintah yang diikuti.

Ketetapan Pemerintah yang disbeutkan dalam hadis ini pada hakikatnya kita dapat terlebih dahulu menganalisis, kenapa tanggal 9 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 4 Oktober. Hal ini sebagaimana yang sebelumnya saya jelaskan terkait terbitnya hilal di masing-masing daerah yang berbeda. Sehingga jika kita berada di Indonesia, maka ikutilah kapan terbit hilal itu muncul, tidak mengikuti hilal yang ada di Saudi Arabia. Hal ini dikarenakan pelaksaaan ibadah adalah terkait ruang dan waktu. Sama halnya seperti pelaksanaan puasa Ramadhan yang menunjukkan perbedaan dalam mengawali maupun mengakhiri, tergantung pada posisi terbitnya hilal di masing-masing tempat.

Dengan demikian, ada tiga alasan mengapa pelaksanaan Idhul Adha di Indonesia harus berbeda dengan Arab Saudi. Pertama, karena posisi geografis kedua negara yang memiliki matla (terbit hilal) berbeda. Konsekwensi dari posisi hilal di akhir bulan Dzulqo’dah berbeda dengan kondisi hilal di Arab Saudi sehingga ada perbedaan dalam mengawali awal Dzulhijjah dan konsekwensinya tanggal 10 Dzulhijjah akan berbeda pula. Kedua, perintah melaksanakan puasa arafah secara otomatis berlaku sesuai dengan daerahya masing-masing. Hal ini berdasarkan landasan bahwa melaksanakan puasa arafah itu bukan karena orang yang wukuf di Arafah, melainkan waktuya tertentu yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah. Ketiga, beberapa hadits terkait pelaksanaan hari raya dilaksanakan berdasarkan mayoritas dan mengikuti keputusan ulil amri di negara / wilayah masing-masing.

Pada akhirnya dengan segala kerendahan hati memberikan pengetahuan untuk dapat saling memahami landasan yang seharusnya sebagaimana syariat yag telah diperintahkan. Tentu saja, tulisan ini tidak hanya diperoleh dari pendapat pribadi saja, namun diperoleh dari tulisan-tulisan lainnya yang merupakan penunjang dari pilihan penulis sendiri. Wallahu’alam bis sowab.

Comments»

no comments yet - be the first?


*