jump to navigation

Minat Belajar Ilmu Falak February 24, 2015

Posted by Anisah in Ilmu Falak. trackback

Tidak ada kemudahan yang tidak dimulai dengan kesulitan. Itulah cirinya orang yang sedang menuntut ilmu. Apapun yang sedang dipelajari pasti akan ada halangan dan rintangannya. Termasuk dalam mempelajari ilmu ketiga setelah ilmu kedokteran dan ilmu waris yang dipelajari di dalam Islam yaitu ilmu falak. Ilmu falak merupakan cabang rumpun keilmuan astronomi yang membahas tiga benda langit yaitu Bumi, Bulan dan Matahari yang sangat erat terkait dengan penentuan arah dan waktu ibadah. Di dalamnya termasuk melakukan perhitungan seperti menghitung ketinggian matahari dalam menentukan awal waktu shalat, menghitung posisi hilal pada saat akhir bulan hijriyah dan pengamatan seperti mengamati munculnya fajar sebagai tanda awal waktu shalat dan cahayanya hilal untuk menentukan awal bulan hijriyah.

Tidaklah heran, jika sebagian besar orang telah kalah sebelum start ketika memulai ilmu ini. Banyak di antaranya yang menganggap bahwa ilmu falak hanya mempelajari hisab yang jelimet dan sulit. Di awal sajian banyak literatur, rumus-rumus perhitungan telah menjadi batas untuk enggan mempelajarinya lagi. Apalagi jika hal ini dialami mereka yang tidak memiliki background keilmuan sains atau yang tidak memiliki dasar ilmu hisab sebelumnya. Kesulitan ini menjadikan peminat atau orang yang mempelajari ilmu ini tidaklah banyak. Apalagi jika kita lihat para ulama ahli falak yang banyak menulis kitab itu satu persatu meninggalkan kita, kelangkaan ilmu ini semakin bertambah.

Sejatinya, ilmu falak tidaklah ada tanpa adanya sebuah pengamatan. Pada zaman di mana Islam maju dengan ilmu dan budaya pada saat Peradaban Abasiyah, banyak ilmuan Muslim yang fokus pada upaya penentuan awal waktu shalat di setiap Masjid. Adanya perintah mengerjakan shalat lima waktu pada akhirnya mendorong para ulama untuk dapat menyesuaikan tanda awal masuknya waktu shalat sebagaimana hadits yang diriwayatkan tentang awal-awal waktu shalat yang lima. Sejarah merekam beberapa Masjid yang berada di daerah Basrah memiliki tiang untuk mengetahui pergerakan matahari dalam rangka menentukan awal waktu shalat. Contoh penentuan itu yakni ketika waktu dzuhur itu dimulai saat matahari tergelincir, maka bagaimana posisi matahari ketika tergelincir itu? Berdasarkan pengamatan astronomi yang juga mulai berkembang saat itu, waktu matahari tergelincir adalah di mana matahari telah melewati meridian pass pukul 12.00 dengan penambahan dan pengurangan pergerakan matahari hakiki dan semu untuk diperoleh penyesuaian dengan daerah masing-masing.

Mempelajari ilmu falak sama halnya mempelajari ilmu alam. Pergerakan langit yang sedemikian rupa menyibak pengetahuan manusia untuk terus menggali apa yang belum diketahui dari informasi langit di sana. Ilmu falak lebih luas lagi mempelajari benda-benda langit di luar Bumi, Bulan dan matahari. Lebih jauh lagi mempelajari tentang solar sistem yang berbicara tentang planet-planet yang mengitari matahari. Atau lebih luas lagi mengamati asteroid-asteroid yang bisa terlihat di ufuk Bumi. Padahal ilmu ini baru hanya berbicara tentang kekuasaan Allah dalam payung Bumi kita di malam dan siang hari.

Minat mempelajari ilmu falak pada dasarnya dimulai dengan adanya rasa ingin tahu yang tinggi. Karena dengan demikian, usaha untuk mempelajarinya dapat tercipta. Seseorang dengan rasa ingin tahu yang tinggi dapat membuka pemikirannya untuk dapat menggali sebuah informasi. Hal yang akan berlanjut kemudian, seseorang tidak puas dengan informasi dari satu sumber saja, namun mencari dan membuka informasi dari cabang keilmuan lainnya untuk dapat mengkaitkan satu informasi dengan informasi lainnya. Ketika rasa ingin tahu yang tinggi menjadi modal utama belajar, maka selanjutnya dia akan melakukan kegiatan pembelajaran apapun untuk mendapatkan apa yang ia ingin ketahui.

Seiring dengan waktu, ketika kegiatan pembelajaran itu biasa untuk dilakukan maka pembiasaan akan berubah menjadi hal luar biasa manakala ditekuni secara sungguh-sungguh. Seseorang yang senang mempelajari sesuatu akan menjadikan hal yang menjadi kebiasaannya itu sebagai upaya memperoleh informasi baru dari yang dilakukannya. Pada suatu saat, hasil kumpulan dari apa yang ia lakukan dan tekuni berbuah pengetahuan yang luar biasa untuk diketahui oleh semua pihak. Sehingga seseorang dengan modal ingin tahu saja sebenarnya tidak cukup tanpa diiringi dengan keistiqomahan usaha.

Coba kita lihat kabar berita yang menginformasikan generasi muda kita dapat meraih prestasi di dunia internasional. Para pemuda pemudi kita telah mendapatkan banyak medali emas, perak dan perunggu dalam perlombaan ilmiah kancah internasional. Hal ini merupakan kebanggaan luar biasa yang dapat menjadi modal kepercayaan diri negara kita untuk menumbuh kembangkan generasi masa depan untuk semakin mencintai ilmu. Kesempatan yang digunakan dengan persiapan sebaik mungkin menghasilkan nilai yang tidak dapat kita hargai dengan uang. Prestasi-prestasi mereka memberikan semangat bagi negeri ini untuk dapat bangkit dengan meningkatkan kualitas anak-anak kita.

Namun keberhasilan ini tidak dapat dijadikan titik aman. Sebagai negara yang memiliki mayoritas umat muslim seharusnya juga dapat memberikan prestasi yang tidak kalah saingnya. Konsistensi dalam bidang ilmu agama yang semakin hari semakin surut. Minat untuk menekuni bidang agama semakin mengecil tanpa adanya usaha dari para orangtua dan pembimbing untuk senantiasa memberikan stimulus tentang masa depan agama di tahun 2020 nanti atau bahkan lebih jauh dari yang kita perkirakan. Oleh karena itu perlunya usaha-usaha untuk dapat memberikan pembekalan agama sejak dini untuk menumbuh kembangkan minat mempelajari ilmu agama, terlebih lagi ilmu falak.

Saat ini adalah zaman di mana semua persoalan telah begitu terbuka untuk dapat diketahui oleh publik. Para pemuda pemudi yang hidup di zaman cyber ini juga menghadapi sebuah tantangan yang sejatinya dapat direspon secara bijak. Kemudahan untuk mendapat informasi di dunia internet lambat laun menjadikan mereka malas untuk mendapatkan informasi yang lebih. Untuk mengetahui sesuatu mereka tinggal memainkan keybord dan berselancar di dunia maya. Kemudahan ini secara tidak langsung membuat kemandulan daya analisis untuk memahami sesuatu. Hal ini sangat bahaya jika dibandingkan zaman dulu yang mengharuskan orang mencari sumber referensi sampai di pojok-pojok perpustakaan yang berdebu.

Dengan kemajuan teknologi tidak berarti membuat generasi kita makin cerdas. Berkaca pada sebagian realita yang ada, kita membutuhkan adanya sikap bijak dalam menghadapi kecanggihan zaman. Kemudahan yang ada seharusnya dipergunakan untuk dapat berprestasi di dunia internasional dengan berita-buntuk dapat berprestasi di dunia internasional dengan berita-berita yang menggembirakan untuk dapat diapresiasi. Sehingga membutuhkan usaha ekstra untuk mengawal generasi masa mendatang ini untuk tetap bersikap cerdas.

Untuk tetap melestarikan keilmuan falak yang semakin langka di tengah kemajuan zaman ini diperlukan adanya cara-cara nyata. Ketersediaan fasilitas internet yang dapat memudahkan pengguna menyebarluaskan informasi dapat digunakan sebagai salah satu usaha menyebarluaskan ilmu falak secara cepat. Keterbukaan informasi tentunya tidak hanya tampil di dunia maya saja namun harus didukung dengan usaha para pembelajar ilmu falak untuk juga sharing dan diskusi dengan orang lain. Hal ini akan menjadi sinergi kekuatan menumbuhkembangkan keilmuan yang hampir akan punah ini.

Dorongan sosialisasi ini tidak akan menjadi usaha utama, namun diperlukan usaha lain misalnya dengan jalan melestarikan ilmu falak untuk tetap dipelajari anak sekolah tingkat menengah atau atas. Hal ini menjadi kesempatan yang bagus untuk dapat disebarluaskan di kalangan lembaga pendidikan seperti pondok pesantren maupun sekolah Islam lainnya.

Comments»

no comments yet - be the first?


*